Penulis : Gusty A. Haupunu
Guru Mata Pelajaran Geografi di SMA N I Amfoang Barat Laut dan Ketua Gp Ambal
Dalam tulisan ini saya ingin membagikan beberapa hal yang berkaitan dengan
latar belakang historis perayaan natal tetapi yang menjadi soratan terpenting
saya ialah pemaknaan natal sebagai alat perjuangan untuk membebaskan
rakyat/umat.
Sumber Historis Perayaan Natal
Dikutip dari laman : https://www.abbaloveministries.org,
yang menjelaskan soal sumber Historis perayaan natal terdiri dari tiga sub bagian diantaranya sebagai berikut.
Sumber pertama Seorang sejarahwan Roma, namanya Sextus Julius Africanus,
telah mengemukakan teorinya pada abad Ke-2 M bahwa tanggal penciptaan langit
dan bumi adalah 25 Maret. Ini berdasarkan tanggal yang dianggap oleh Winter
Solstice, yang menunjukan bahwa tanggal itu siangnya terpendek dan malamnya terpanjang dalam
setahun. Fenomena ini terjadi pada musim dingin di belahan utara bumi. Sextus Julius
Africanus juga mengemukan teori bahwa tanggal 25 Maret adalah tanggal di mana
terjadi pembuahan Yesus dalam kandungan Maria. Maka sembilan bulan kemudian tepat pada tanggal 25 Desember Yesus lahir. denagn demikian, Sextus Julius Africanus menentukan tanggal 25 Desember
itu sebagai tanggal kelahiran Yesus.
Sumber kedua adalah kebiasaan merayakan Sol Invictus (Matahari yang tak
terkalahkan) dalam Kerajaan Roma sampai Abad ke-4 yang telah dirayakan pada
tanggal 25 Desember. Sekaligus di minggu sebelumnya ada perayaan Saturnalia
17-25 Desember, ketika masyarakat berpesta dan saling menukar hadiah. Mereka
telah memilih satu orang untuk menjadi korban yang sangat disiksa dan dihina
selama minggu itu lalu diakhiri dengan pengorbanannya pada tanggal 25 Desember.
Selama minggu itu tak ada yang dilakukan orang yang dianggap sebagai dosa
sehingga semua orang boleh berpesta pora – mabuk, jalan telanjang di jalan,
mencuri, memperkosa, dan segala jenis dosa lainnya dan tidak akan dihakimi.
Umat Kristen telah mengemukakan bahwa Yesus adalah “Matahari yang tak terkalahkan”
itu yang sudah dinubuatkan dalam Maleakhi 4:2, “Tetapi kamu yang takut akan
nama-Ku, bagimu akan terbit Surya Kebenaran dengan kesembuhan pada sayapnya.”
Sumber ketiga Tanggal 25 Desember juga adalah tanggal lahir dewa
Indo-Eropa, yaitu, Mithra, ilah terang, dan adalah populer antara para laskar
Roma. Umat Kristen kemudian menerangkan bahwa Yesus adalah Terang Dunia yang
sejati sehingga dijelaskan bahwa kelahiran Yesus membawa terang Allah ke dalam
dunia yang gelap. Maka, tanggal itu dikristenkan seperti hal-hal yang di atas.
Gabungan dari ketiga sumber itu yang semuanya jatuh pada tanggal 25 Desember
telah menjadi dasar pemberitaan Injil dan kelahiran Yesus ke dalam dunia.
Setelah Kaisar Konstantin menjadi Kristen pada tahun 332 M, Kekristenan menjadi
agama resmi Kerajaan Roma, maka tanggal 25 Desember diambil sebagai tanggal
perayaan kelahiran Yesus mulai tahun 336 M. Namun tanggal itu tidak diterima
dari semua kalangan Kristen menjadi perayaan umum Natal hingga Abad Ke-9.
Akhirnya, Umat Kristen telah mengadopsi dan mengubah pesta-pesta kafir sebagai
usaha memenangkan bangsa-bangsa kafir menjadi Kristen. Di abad-abad awal
orang-orang Kristen sudah tahu itu bukan tanggal lahir Yesus, hanya tanggal
perayaannya sebagai usaha memenangkan dunia kafir, sehingga pesta kafir
menjelma (metamorphosis) menjadi Hari Natal. Masa kini, sebaliknya, kebanyakan
Umat Kristen beranggapan bahwa itu adalah tanggal sesungguhnya Yesus lahir.
Professor Joseph A Fitzmyer, Profesor Emeritus Penyelidikan Alkitab Universitas
Katolik America setelah menyelidiki semua catatan sejarah dan Alkitab telah
mengambil kesimpulan yang kini diterima secara umum oleh para ahli sejarah dan
Alkitab bahwa Yesus telah lahir pada tanggal 11 September sekitar tahun 3 atau
4 sM.
Dari latar belakang sumber historis Natal tersebut tidak menjadi
sebuah persoalan yang sangat mendasar bagi saya sebab pada intinya bahwa dalam
pandangan umat kristiani pada umumnya memandang natal hanyalah bermuara
pada hari lahirnya sang jurusselamat untuk membebaskan manusia dari segala
dosanya. Sehinga menjadi sebuah keharusan untuk memanifestasikan makna natal
yang telah terkutib dalam beberapa ayat alkitab untuk dijadikan sebagai sebuah
landasan perjuangan dalam membebaskan manusia ( rakyat) dari segala penindasan
yang dimainkan oleh rejim.
Natal untuk pembebasan rakyat
Rujukan dasar untuk menjadikan Natal sebagai misi pembebasan bagi
umat/rakyat ialah pada makna Natal yang diartikan sebagai hari keselamatan umat
manusia. oleh karna itu Natal perlu dimanifestasikan dalam konteks perjuangan,
sebab akhir – akhir ini ketika kita memamdang ke setiap kebijakan rejim yang
berkuasa di Repoblik ini hanya melahirkan kebijakan anti rakyat, hal ini dapat
kita lihat bahwa, setiap hari masi saja rakyat kecil selalu mengelu akan kekurangan
sandang, pangan, dan papan, rakyat juga masi mengelu ketika lahan –
lahan produktif mereka telah dirampas untuk dijadikan pembangunan dan lain
sebagainya. Lebih para lagi ketika terjadi penindasan terhadap kaum
buruh Negara mutlak menghilangkan peranya untuk melindungi rakyatnya. keadaan objektif ini dapat kita amati secara bersama melalui cara kerja Negara. kondisi kerja Negara saat ini bila disimpulkan, Negara memang menunjukan sebuah model kerja yang mutlak dan berhaluan penuh pada agenda
neoliberalisme yang menginginkan kemiskinan meraja-lela, kebodohan yang
meraja – lela, perampasan hak rakyat yang meraja – lela dan menarik posisi kerja Negara untuk keluar dari urusan penuntasan agenda pelayanan kebutuhan Rakyat. dengan fenomena ini dimana Rakyat dibiarkan untuk mencari jalan kesejateraannya sendiri tanpa dikawal oleh negara, justru dalam konteks beragama dan beriman akan memiliki dampak buruk yang besar bagi umat/rakyat yang tidak bisa melaksanakan aktifitas
keagamaannya dengan benar, akibat dari sistim kerja Negara yang telah mencaplok model kerja dunia Neoliberal dengan sistem kapitalismenya saat ini, yang selalu
mendiktei rakyat sebagi kaum budak dan objek penindas. Memandang kondisi real ini semestinya para
pemegang kekuasaan gereja haruslah memiliki watak progresif revolusioner untuk tegas dalam menyikapi persoalan yang saat ini di hadapi oleh Mayoritas rakyat/umat. sebab apapun bentuknya, sebagai intitusi yang memilik peran penting dalam menjalankan misi keselamatan umat manusia juga memiliki peran mutlak dalam misi pembebasan umat manusia dari jeratan kekuasaan kapitalisme yang selalu menindas dan merampas hak rakyat. dengan demikian bahwa untuk merubah sebuah keadaan yang dialami oleh umat/jemaat saat ini tidak cukup, hanya dengan memohon kepada Tuhan, namun harus bertindak nyata dan
perhatian mereka haruslah lebih pada kondisi objektif yang dialami oleh
umat/jemaat yang adalah rakyat. hal ini dapat kita teladani dari para agamawan
di Amerika Latin, Fr Gustavo Gutierrez cs, yang mengkoordinasi perlawanan
kepada rezim penindas.
Sebab bagi saya
Tuhan yang kita imani tidak perna sepakat akan penindasan manusia atas
manusia dan penindasan bangsa atas bangsa. karna sejatinya kesucian iman
apabila keberadaan raga/tubuh sebagai bentuk fisik terbebas dari penindasan
ekonomi, politik, sosial dan budaya. Karena selagi manusia masi ditindas oleh
sistem kapitalisme yang mengakibatkan pada krisis ekonomi maka akan berdampak
pula pada ketidak konsisten iman manusia kepada Tuhan.
Dari keadaan
objektif ini semestinya menjadi tanggung jawab gereja dalam memerangi
setiap praktek penindasan yang dilakukan oleh negara terhadap umat/rakyat.
Karena ketika gereja menutup diri dari persoalan umat/rakyat maka gereja telah
mengangkangi sabda Allah lewat kelahiran, dan karya penebusan Yesus ketika Ia hidup
didunia sebagi manusia. Artinya gereja harus mampu mewartakan keselamatan Allah
seperti yang diberikan Yesus kepada manusia untuk selalu menjaga karya
Allah dan melindungi ciptaanNya seperti melindungi tanah, air, hutan, dan
manusia dari gempuran dan eksploitasi yang dilakukan oleh kaum pemodal yang
tidak bertanggung jawab. Jika misi ini dijalankan oleh gereja maka
surga yang diimpikan oleh manusia dapat diwujutkan dalam kehidupa nyata, dengan mengutip doa yang diajarakan oleh Yesus Kritus bagi murit-muritnya yaitu jadilah kehendak Mu seperti diatas bumi dan didalam sorga. artinya keadaan surga yang dicita-citakan manusia setelah kematian untuk ditempatinya harus diwujutkan diatas bumi yang saat ini menjadi pijakan bersama setiap kehidupan. dengan demikian melalui momen Natal tahun ini, harus dijadikan sebagai jalan baru menuju keselamatan
sejati. oleh karena itu Gereja dan umat harus mampu mewujutkan makna pembebasan dalam
karya – karya nyata dengan berjuang bersama dalam melumpuhkan gempuran arus kapitalisme dengan menghadirkan sistem baru tanpa penindasan kelas. sebab ada tertulis dihadapan Allah semuanya setara tanpa dibeda-bedakan. Selamat merayakan hari Natal untuk semua umat
manusia dikolong langit ini. TUHAN SELALU MEMBERKATI SETIAP PERJUANGAN MANUSIA YANG BERDASARKAN PADA NILAI KEADILAN DAN KEBENARAN. DIATAS NILAI-NILAI INILAH PENINDASAN ANTAR KELAS MUSTAHIL DIWUJUTKAN OLEH SEGALA SISTEM PENINDAS RAKYAT.

Mantap pak guru
ReplyDelete