Penulis:
Gusty A. Haupunu, Guru Mata Pelajaran Geografi di SMA N I Amfoang Barat Laut
Dalam pembangunan, Dari mana
sumber anggaranya atau status sasaran anggarannya, bukan pemicu utama dalam
pembangunan, namun skla prioritas kebutuhanlah yang menjadi dasar pembangunan.
TERMANU merupakan skala prioritas utama yang harus dibangun. Oleh karena itu
bagi penguasa direpublik ini, jangan skali-skali berkmpromi dengan pelaku
kapital, kompromilah dengan rakyat sebagai penguasa demokrasi.
Agenda pembangunan infrastruktur jalan, jembatan dan sektor lain, merupakan
prioritas Negara dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat. Melalui pembangunan
tersebut daerah-daerah yang sulit dijangkau akan digenjot dengan pembangunan
jalan dan jembatan demi memperlancar arus lalulintas dan arus ekonomi. Target
pembangunan tersebut telah dikomandangkan sejak masa penjajahan kolonial sampai
memasuki zaman pemerintahan. Terkait model pembangunan yang telah dilakukan
pada masa kolonial, memiliki maksud yang berbeda dengan pembangunan di masa
pemerintahan yang terhitung semenjak Indonesia merdeka pada tahun 1945. Model
pembangunan masa kolonial memiliki tujuan utama yaitu memperlancar arus
transportasi untuk pengangkutan komoditi
yang ada diperkebunan ke lokasi industri. Sebab target pembangunan zaman
kolonial, didasarkan pada akumulasi modal dari setiap komuditi yang telah
mereka kembangkan. Tahap pembangunan ini tentu berbeda dengaan pembangunan
diawal pemerintahan. Model Pembangunan diawal pemerintahan targetnya ialah
memperlancar kerja pemerintahan dan memajukan kesejahteraan rakyat. Namun
ironisnya saat kekuasaan Sukarno diambil alih oleh rejim ORBA (Soeharto), corak
pembangunan sedikit-demi sedikit diarahkan untuk mengikuti tuntutan kapital
(Pemodal). Pembangunan pada masa rejim ORBA, selalu mengikuti tuntutan kapital
itu berdasarkan pada UU No 1. Tahun 1967 tentang penanaman modal asing.
Undang-undang ini dibentuk setahun setelah kekuasaan Indonesia diambil alih
oleh Soeharto. Undang-undang penanaman modal asing ini merupakan kado
istimewa dari Soeharto yang diberikan
kepada cukong-cukong kapitalis atas balas saja soeharto terhadap agen kapital. Sebab
perolehan kursi keprisidenan Soeharto di Indonesia merupakan bentuk perjuangan
imperialisme dalam menggulingkan Soekarno. Melalui skenario inilah corak
pembanguna infrastruktur di Indonesia hingga pemerintahan Jokowi tidak ada
bedanya dengan corak pembangunan infrastruktur zaman kolonial.
Corak ini dapat kita amati pada Global
competitiveness index 2017-2018. Indonesia berada pada urutan 52 dari 137
negara di dunia. Negara yang menduduki peringkat teratas tersebut dianggap
sebagai lokasi faforit untuk melancarkan akumulasi kapital lewat pembukaan
situs-situs produksi terbaru. Dengan demikian maka setiap titik situs produksi
baru yang ditemukan, untuk dijadikan sebagai basis produksi manufaktur atau
ekstraktif, akan menjadi kewajiban antara negara dan pelaku kapital untuk
menyiapkan kondisi infarstruktur seperti jalan tol, pelabuhan, dan areal bebas
banjir, demi kenyamanan jalur distribusi. Model pembangunan ini dapat kita
amati sacara langsung diseluruh wilayah Indonesia. Misalnya jalan menuju PT-PT
besar seperti Freeport, pabrik gula baru di jawa tengah, pabrik spritus wates
mojokerto, berbagai jenis pabrik motor, semen, mobil dan juga lokasi produksi
barang tambang yang terdistribusi di seluruh wilayah Indonesia, rata-rata
memiliki kondisi infarastruktur yang memadai. Namun ironisnya jalur
transporatsi penghubung lokasi produktif rakyat
faktanya hancur tanpa perhatian Negara. Sebagai contoh yang akan penulis
sampaikan adalah kondisi infrastruktur wilayah Amfoang sejak awal kemerdekaan
sampai zaman demokrasi saat ini.
Wilayah Amfoang yang telah ada dalam kabupaten Kupang diawal tahun 1958
sebagai tahun terbentuknya kabupaten kupang, benar-benar mendapatkan pil pahit
setiap hari karena diperhadapkan dengan kondisi infrastruktur yang sangat
buruk. Dengan kondisi infrakstruktur yang buruk ini kebanyakan hasil-hasil
komoditi masyarakat memiliki nilai tawar yang sangat rendah dibandingkan dengan
wilayah lain. Sejumlah kekayaan produktif rakyat seperti sektor pertanian,
peternakan dan perikanaan sering dimanipulasi harga oleh para tengkulak.
Permainan harga tersebut dapat beroperasi dengan lancar karena tidak memiliki
kendali dari pihak pemerintah terhadap para pelaku ekonomi.
Pihak pemerintah semestinya serius dalam mengendalikan pelaku ekonomi yang
selalu mempermainkan harga komoditi ditangan masyarakat. Langka pengendalian
pemerintah yang harus dilakukan misalnya menyediakan pasar dan perbaikan
infrastruktur jalan dan jembatan. Namun sampai saat ini belum memiliki titik
terang untuk membangun infrastruktur diwilayah Amfoang. Terkait sektor produksi
diwilayah Amfoang seluruhnya masih dikuasai oleh rakyat, tanpa satu sektor
produksi yang dikuasai oleh pihak kapital (Pemodal), berlatar belakang dari
kondisi produksi inilah, bagi analisis saya Amfoang sulit dibangun karena
hubungan investasi modal swasta dan pemerintah belum terjalin. Artinya Amfoang belum
memiliki situs produksi baru yang dibangun oleh pelaku kapital. Seperti ulasan yang
telah dijelaskan di atas. Selanjutnya pada tahun 2016 Amfoang didengungkan
dengan nama Observatorium yang merupakan bangunan nasional untuk dibangun diwilayah
Amfoang, situs baru ini bergerak dalam bidang IPTEK memiliki pengaruh yang
sangat besar bagi indonesia dan dunia. Pengaruh yang sangat besar ini Negara
dengan cepat meluncurkan anggaran menuju Observatorium untuk segera dibangun,
kemudian infrastruktur pendukung seperti jalan, jembatan dan listrik juga
digenjot secepatmungkin untuk segera dikerjakan, namun satu nama yang telah diperdengarkan
oleh para leluhur yaitu TELMANU yang karena faktor dialeg berubah namanya
menjadi TERMANU, hanya menjadi doa dan harapan bagi seluruh rakyat Amfoang
untuk meminta pertolongan demi pembangunan jembatan tersebut.
Termanu Dan Observatorium Ada Yang
Diistimewakan.
Sebagai bukti pembangunan, jembatan Termanu tepat pada tahun 1994 yang telah dibangun
diwialayah kabupaten Kupang Nusa Tenggara Timur, panjang jembatan tersebut
100m, bergelagar besi dan beralas kayu. Jembatan ini berada pada jalur pantura
yang menghubungkan, wilayah Fatu Leu dan Wilayah Amfoang. Antara Fatu Leu dan
Amfoang sangat membutuhkan jembatan tersebut dalam kebutuhan ekonomi, sosial
dan politik, namun dari kedua wilayah tersebut Amfoang Lah yang sangat
membutuhkan jembatan tersebut. Hal ini dikarenakan akses masyarakat Amfoang
menuju kota kabupaten dan kota provinsi harus melintasi jembatan tersebut.
Dengan perjalanan waktu yang telah sirna jembatan termanu saat Memasuki tahun
2017 – 2019, telah berusia 25 tahun, usia 25 tahun merupakan usia yang cukup
tua dalam usia infrastruktur. Usia yang cukup tua ini dapat kita lihat secara
real pada jembatan tersebut, dimana, puluhan baut pengancing geragal besi dan
kayu telah terlepas, beberapa tiang penyangga suda kehilangan fungsi
penyangganya dan puluhan lembar papan telah berjatuhan hingga kondisi jembatan
tersebut mengalami kemiringan yang sangat drastis, dan juga terdapat puluhan
lubang akibat hilangnya alas papan geragal. Melihat kondisi ini, Jeritan tangis
rakyat Amfoang slalu disalurkan baik melalui mimbar-mimbar gereja, media masa,
maupun melalui sosial media. Namun tak satu pun penguasa yang merespon soal
jembatan tersebut. Dalam kurun waktu antara 2016-2019 jembatan tersebut bagi saya tidak layak lagi
digunakan oleh masyarakat, namun karna situasi dan kondisi yang mendesak maka
rakyat terpaksa harus melewati jembatan tersebut, walaupun nyawa menjadi
taruhannya. Ditahun 2016-2019 Termanu belum juga mendapat perhatian, namun di
tahun yang sama 2016-2019 ketika LAPAN
menyatakan bahwa Amfoang layak dibangun Observatorium sebagai pengganti dari
Observatorium bossca. Negara begitu cepat dan aktif dalam pembiayaan untuk segera di tindaklanjuti. Tepat pada
tahun 2019 proses pembangunan Observatorium Timau resmi dibangun dengan
anggaran triliunan rupiah. Mengapa TERMANU diterlantarkan sedangkan
OBSERVATORIUM TIMAU diistimewakan??? Mungkin karena, TERMANU disurakan dari
mereka yang miskin, lapar dan tertinggal sedangkan OBSERVATORIUM disuarakan
dari mereka yang berdasi dan bermodal???. Hal ini menjadi bukti bagi kita bahwa
suara para pemilik modal akan cepat didengar oleh negara namun suara para
rakyat miskin dan lapar akan menjadi sulit untuk didengar.
Dalam konteks pembangunan infrastruktur, kaum kapital harus disingkirkan,
rakyatlah yang harus diutamakan. Sehingga model pembangunan yang berorentasi
pada investasi kapital tidak di jalankan oleh Negara agar setiap infrastruktur
yang dibangun benar-benar menjawab kebutuhan dasar rakyat.

Belum ada tanggapan untuk "OPINI: ANTARA OBSERVATORIUM TIMAU DAN JEMBATAN TERMANU, MENGAPA ADA YANG DIISTIMEWAKAN???"
Post a Comment